Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (ertinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi kalian (iaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Para pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua. Sibuk dengan ritual keagamaan belum menjadi jaminan seseorang telah shalih, alim, atau ahli ketaatan. Penampilan seseorang dalam beragama hendaknya diukur sejauh mana dirinya menerapkan amal shalih yang didasari keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan ini, maka amaliah seseorang akan menjadi sia-sia. Ia akan mendapatkan kehampaan pahala dan terseret ke arah amaliah yang jauh dari agama Islam itu sendiri.

Tentu merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau kerana kagum dengan  tokoh tertentu. Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amalannya mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.

Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Mengagungkannya Read the rest of this entry »

Advertisements

Erti Sebuah Cinta

Cinta boleh jadi merupakan perkataan yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta untuk diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kenderaan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabbnya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Lebih-lebih lagi untuk mengetahui akan hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan mudahnya boleh keluar dari batasan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang penzina dengan rasa senang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Kerana alasan cinta, seorang bapa membiarkan anak-anaknya bergelumang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas isterinya hidup lepas bebas tanpa ada ikatan dan tanpa ada rasa cemburu sedikitpun.

Demikianlah apabila kejahilan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, syaitan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh gendang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi membenarkan terhadap segala yang dilarang Allah dan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”(Surah Ali ‘Imran: 14)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadithnya dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

Daripada Tsauban r.a katanya, Rasulullah SAW bersabda: “‘Hampir-hampir sahaja satu ketika umat-umat (orang-orang kafir) memperebutkan kalian (umat Islam) sebagaimana memperebutkan makanan dihidangannya”. Lalu seorang sahabat bertanya: Adakah kami sedikit ketika itu? Jawab Baginda: “(Tidak) bahkan kalian ketika itu ramai, tetapi kalian seperti buih yang terhempas (di lautan). Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’

(Hadith Riwayat Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Surah Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbezaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahawa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelazatan jiwa. Sebahagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”


Definisi Cinta

Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, kerana tidak boleh dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak boleh didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (bererti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta

Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diredhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan redhaNya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Bererti jelas bahawa cinta adalah ibadah hati yang apabila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah iaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah

Cinta yang dibangun kerana Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: “Sebahagian salaf mengatakan bahawa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:

“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, nescaya Allah akan mencintai kalian…” (Surah Ali ‘Imran: 31)

Mereka (sebahagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Nescaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faedahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, faedah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”

Apabila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain kerana-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik rahimahullah:


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketigatiga perkara itu) padanya, nescaya dia akan memperolehi kemanisan iman iaitu  Allah dan RasulNya lebihd ia cintai daripada selain keduanya, dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadith Riwayat Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Ibnul Qayyim mengatakan bahawa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:

Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dikehendakinya.

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.

Ketiga, terus-menerus berzikir dalam setiap keadaan.

Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.

Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.

Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.

Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika sepertiga malam.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.

Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)

Cinta adalah Ibadah

Cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Surah Al-Hujurat: 7)

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Surah Al-Baqarah: 165)

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Surah Al-Maidah: 54)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

Macam-macam Cinta

Di antara para ulama ada yang membahagi cinta menjadi dua bahagian dan ada yang membahaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahawa cinta ada empat macam:

Pertama, cinta ibadah.

Iaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadith di atas.

Kedua, cinta syirik.

Iaitu mencintai Allah dan juga selainNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Surah Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.

Iaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Surah Al-Fajr: 20)

Keempat, cinta tabiat.

Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Surah Yusuf : 8 )

Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Buah cinta

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah bahawa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)

Apabila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu diperincikan.

Pertama, apabila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.

Kedua, apabila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.

Ketiga, apabila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.

Wallahu a’lam.


Disunting dari penulis asal : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Sumber: http://www.asysyariah.com/

Si Kecil Menolak Ketulusan Hati Insan kerana Cukup Allah Baginya

Bila kudengar suara lolongan serigala
Kurindu kepada serigala
tetapi bila kudengar suara manusia
aku hampir sahaja kehilangan kesedaranku

Seorang lelaki memasuki sebuah masjid bukan pada waktu solat, lalu ia menjumpai seorang anak kecil yang berumur sepuluh tahun sedang melaksanakan solat dengan khusyuk. Ia menunggu sehingga anak kecil itu menyelesaikan solatnya. Kemudian orang itu mendekatinya dan bertanya: “Anak siapa wahai anakku?”. Anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menitiskan air mata dipipinya. Kemudian dia mengangkatkan kepalanya dan berkata: “Wahai pakcik, saya seorang anak yatim piatu.’

Lelaki itu tersentuh sekali hatinya dan berkata: “Mahukah kamu menjadi anak angkatku?” Anak itu berkata: ” Apakah jika aku lapar engkau memberiku makan?” Orang itu menjawab: “Ya!” Anak kecil itu bertanya lagi: “Apakah jika aku tidak mempunyai pakaian, engkau akan memberiku pakaian?” Orang itu mengangguk dan mengatakan “Ya!” Anak kecil itu bertanya lagi : “Apakah engkau akan menyembuhkanku jika aku sakit?” Orang itu menjawab: “Wahai anakku, aku tidak dapat melakukan itu?” Anak kecil itu bertanya lagi: “Apakah engkau akan menghidupkanku bila aku mati?” Orang itu menggelengkan kepala : “Aku juga tidak sangggup?”.

Akhirnya anak kecil itu berkata:” Kalau demikian wahai pakcik, serahkanlah diriku kepada.

“Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjukkan hidayah kepadaku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari qiamat”.  [ Surah Asy-Syu’ara’: 78-82]

Lelaki itupun diam dan pergi meneruskan urusannya, sedang anak kecil itu berkata: “Aku beriman kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kecukupan kepadanya.”


Mindaku Berbicara

Si kecil yang memiliki tawakkal yang tinggi kepada Allah. Cukuplah Allah baginya. Tidak mengharap manusia tapi hanya Allah semata. Mungkin ada yang berkata, betapa anak ini telah menolak rezeki yang Allah kirimkan untuknya…atau mungkin juga ada yang berkata, anak ini telah menolak ketulusan hati insan yang ingin mendapatkan ganjaran di sisi Allah..seharusnya si kecil ini menerima pelawaan dengan hati terbuka..

Hakikatnya…insan kerdil ini telah melalui jerih derita yang hebat lantaran pemergian ayah dan ibu tercinta dan tinggallah dia sendiri..Di saat tiada sesiapa di sisinya..hanya Allah tempat pengharapan, pengaduan dan pemberi rezekinya..Insan kerdil ini telah merasakan akan kelazatan tawakkal dan iman yang tinggi kepada Allah. Merasakan manisnya berpaut hanya pada Allah..Merasakan nikmatnya apabila menancapkan dalam hatinya, Cukuplah Allah baginya…Pasti iman yang sekuat ini tidak akan menukarkannya dengan bergantung kepada insan, di saat dia telah merasakan segala kenikmatan sebagai seorang hamba Allah yang bergantung hanya pada Allah..

Cerita Seorang Teman

Suatu ketika dia sedang menghadapi masalah kewangan namun tidak diceritakan pada sesiapapun kerana terpahat kukuh dihatinya, Allah akan mencukupkannya dan Allah telah menetapkan rezeki untuknya..Tidak perlu baginya untuk mengharap ihsan manusia..Cukuplah Allah baginya..

Namun, takdir Allah suatu ketika..ada sahabat akrabnya mengetahui situasinya yang agak berat itu dan dengan setulus hati menghulur tangan untuk membantu…Berkali-kali ditolaknya dengan mengatakan: “Tidak mengapa sahabatku, cukuplah Allah bagiku…kuhargai keikhlasanmu itu”.Tetapi temannya tetap mendesak dan akhirnya temanku itu akur apabila sahabatnya berkata: ” Mengapakah dirimu tidak mahu kumendapatkan ganjaran pahala dengan membantumu…Aku juga ingin pahala di sisi Allah sahabatku”.

Sehinggalah suatu hari, terjadi kesalahfahaman antara mereka. Temanku itu tidak bersalah dan sahabatnya juga tidak bersalah cuma suatu silap faham. Betapa sahabat temanku itu telah merobek hati nurani temanku itu apabila terlanjur berkata: ” Bukankah dulu di saat dirimu susah aku yang menolongmu…sekarang lunasi segala halmu sendiri..”

Merintih sepi temanku ini kepada RabbNya.. ” Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui, bahawa dulu diriku pernah menolak bantuannya kerana diriku hanya ingin mengharap padaMu…sedangkan kumenerimanya kerana keinginannya mendapat ganjaran di sisiMu…Silapkah aku Ya Allah?”..

Merintihnya sayu di dalam hati…” Sahabatku…mengapakah kau ungkiti setiap kebaikan yang pernah kau lakukan kepadaku. Bukankah dengan ungkitan itu telah menghilangkan segala ganjaran pahala yang kau harapkan dulu..Mungkin dirimu terlupa sahabatku lantaran amarahmu, mungkin dirimu telah terlupa akan firman Allah”

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…”                                                                                                 [Surah Al Baqarah: 264]

Sejak itu, temanku sangat berhati-hati mendapatkan bantuan insan lain. Jika ada yang ingin membantu akan dikatakan kepada insan itu: “Sahabatku, cukuplah Allah bagiku untuk membantuku di saat susah dan senang. Izinkan aku memautkan diriku sepenuhnya kepada Rabbku..Sesungguhnya sahabatku, diriku amat mengasihimu dan ku tidak mahu amal kebaikan yang kau lakukan hari ini sia-sia kerana ungkitan pada masa akan datang. Jika benar kau ingin menolongku dan mendapatkan ganjaran pahala di sisi Allah semata-mata, mahukah kau menjamin satu perkara padaku?…Dapatkah kau menjamin bahawa walauapapun yang terjadi akan datang, sesekali dirimu tidak akan mengungkitnya..Jika dapat kau menjamin perkara ini akan kuterima seikhlas hati bantuanmu demi keinginan mu memperoleh ganjaran pahala tetapi jika tidak dapat kau menjamin perkara ini…izinkan aku mengharap pertolongan pada Rabbku..cukuplah Allah bagiku sahabatku”….


Siapakah Ahli Sunnah Wal Jamaah Yang Sebenar?

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan: “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang mana kamu tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, iaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi.” (Hadis riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)

 

Rata-rata kita tidak pernah mendengar pun ada golongan yang mengatakan “Aku tidak mengikut Al-Quran dan Sunnah” tapi sebaliknya kita mendengar ramai yang mengatakan “Aku mengikut Al-Quran dan Sunnah.” Golongan yang berkata sedemikian bukan sahaja dari kalangan Ahli Sunnah, Malah jika kita tanyakan kepada golongan Syi’ah juga mereka akan berkata “Aku ikut Al-Quran dan Sunnah.” Padahal golongan Syi’ah adalah golongan yang jauh sekali dari kebenaran.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan satu golongan di dalam syurga, iaitu al-Jama’ah.”
(Hadis Riwayat Abu Daud, Ahmad, ad-Darimi, al-Ajury, al-Lalikaiy. Disahihkan oleh al-Hakim, dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)

 

Dalam riwayat yang lain disebutkan; “(Iaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.

(Hadis Riwayat at-Tirmizi, dinilai Hasan oleh al-Albani)

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat”.
(Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmizi, berkata al-Tirmizi: “Hadis ini hasan sahih”. Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Darimi dalam kitab Sunan mereka. Demikian juga oleh Ibn Hibban dalam Sahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadis ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam Adz-Dzahabi)

 

Hadis-hadis di atas menerangkan bahawa umat Islam pasti akan berpecah dan sememangnya telah pun berpecah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah lebih kurang seribu empat ratus tahun tahun yang lalu. Inilah antara mukjizat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yang dapat kita lihat sendiri. Namun akan tetap ada mereka yang masih berada di atas kebenaran, sebagaimana hadis di atas yang diterangkan mereka itu ialah yang berpegang dengan sunnah Nabi dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang terdiri daripada sahabatnya. Dalam kata lain mereka dipanggil Al-Jamaah sebagaimana hadis di atas juga.

Sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tetap akan ada segelintir dari umatku yang zahir di atas kebenaran, tidak memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka, sehinggalah datangnya keputusan Allah, sedang mereka tetap berada dalam keadaan sedemikian.”
(Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Imam Ahmad di dalam Musnadnya, At-Thabrani dalam Al-Ausath, Abu Ya’la, dan Ibn ‘Adi dalam Al-Kamil)

 

Sabda Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (iaitu para sahabat baginda), kemudian yang sesudah-nya (para tabi’in), kemudian yang sesudah-nya (para tai’ut tabi’in). Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”
(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Allah Ta’ala berfirman: (Maksudnya)

“Dan orang-orang yang terdahulu – yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar”, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka Dengan kebaikan (iman dan taat), Allah redha akan mereka dan mereka pula redha akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar.”
(Surah at-Taubah: 100)

 

Syeikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan -hafizahullahu- menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq (cet. Darus Salaf hal.23-24) beliau berkata: “(Perpecahan dan perselisihan) merupakan hikmah dari Allah Ta’ala sebagai menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan bersikap fanatik.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”.
(Surah Al-‘Ankabut:1-3)

 

Dan firman Allah Ta’ala: (Maksudnya)

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: “Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang derhaka) semuanya”.
(Surah Hud:118-119)

 

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”.

(Surah Al-‘An’am:35).”

 

Dan Allah ’Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya. Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda Rasululullah sallallahu ‘alaihi wasallam: “Sungguh aku telah meninggalkan kamu di atas petunjuk yang sangat terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa”. Hadis ini disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Dzilalul Jannah)

Dan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Suatu hari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garisan lurus dengan tangannya lalu bersabda:

Inilah jalan Allah yang lurus, kemudian baginda menggariskan beberapa garis disebelah kiri dan kanan garis yang lurus itu, sambil bersabda: “Inilah jalan-jalan (kesesatan). Tidak ada satu jalan pun dari jalan ini melainkan ada syaitan yang mengajak manusia untuk mengikuti jalan tersebut. Kemudian baginda membacakan surah Al-An’am ayat 153: “Dan bahawa yang (kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”.
(Hadis riwayat Ahmad; berkata Al-Arnauth: Hadis hasan, rujuk Musnad Ahmad takhrij al-Arnauth)

Ciri-ciri Ahli Sunnah Wal Jamaah

 

Pertama: Berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang sahih berdasarkan pemahaman

salafus soleh

Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus soleh iaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Mengikut pemahaman salafus soleh amat penting, kerana mereka adalah golongan yang paling dekat dengan zaman keberadaan Rasulullah, berbanding zaman terkemudian dengan kemunculan semakin banyak penyelewengan dan hadis palsu .Rasulullah bersabda:“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad)

Kedua: Kembali merujuk Al Quran dan As Sunnah yang sahih dalam setiap perselisihan
Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bersedia menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah: (Maksudnya)
“Maka jika kamu berselisih-faham dalam satu perkara, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasulnya jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.”
(Surah An-Nisa: 59).
“Tidaklah layak bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”
(Surah Al-Ahzab: 36)

 

Ketiga: Mengutamakan ucapan Allah dan Rasul berbanding ucapan manusia

Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah: (Maksudnya)
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kamu kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Surah Al Hujurat: 1)

 

Keempat:Menghidupkan sunnah Rasulullah dalam semua aspek kehidupan

Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”

(Hadis riwayat Muslim dari hadis Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Kelima:Tidak fanatik kepada golongan tertentu

Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatik (taksub) golongan. Dan mereka tidak fanatik kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya boleh diambil dan ditolak kecuali ucapan baginda.”

Keenam:Menyeru supaya berpegang kepada Al Quran dan As Sunnah

Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

Ketujuh:Amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan kehendak Allah dan Rasul

Mereka adalah orang-orang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawan kepada sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan memecahkan-belahkan barisan kaum muslimin.

Kelapan:Mengingkari undang-undang manusia yang bercanggah Al Quran dan As Sunnah

Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

Kesembilan:Bersedia Jihad Fisabilillah jika keadaan menghendaki

Mereka adalah orang-orang yang bersiap-sedia memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits (halaman 3-4) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, mahupun persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh bersemangat bersungguh-sungguh. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan pentakwil yang jahil. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur kerana cercaan orang yang mencerca.”

Ciri-ciri Khusus Mereka


Pertama: Golongan yang sedikit

Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rosak dari segala segi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.”
(Hadis riwayat Imam Ahmad)

 

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin (3/199-200) berkata:

Ia adalah orang asing dalam agamanya disebabkan rosaknya agama mereka, asing pada berpegangnya terhadap sunnah disebabkan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya disebabkan telah rosak keyakinan mereka, asing pada solatnya disebabkan jeleknya solat mereka, asing pada jalannya disebabkan sesat dan rosaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya disebabkan rosaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka disebabkan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka.”

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemui seorang penolong dan pembela pun. Dia sebagai seorang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah (halaman 16-17) mengatakan:

“Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berpuak-puak. Sebahagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berparti-parti yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah:

“Dan tetap akan ada segelintir dari umatku yang zahir di atas kebenaran, tidak memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka, sehinggalah datangnya keputusan Allah, sedang mereka tetap berada dalam keadaan sedemikian.”

Kedua:Orang yang asing di kalangan manusia

Mereka adalah orang yang berada di akhir zaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadis, iaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rosaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirosakkan oleh manusia pada sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dari fitnah dengan membawa agama mereka. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadis ini. Sebagaimana Imam Al-Auza’i rahimahullah menjelaskan tentang sabda Rasulullah:

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahli Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan menyifatkannya dengan asing dan menyifatkan pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam kumpulan yang sedikit. Allah Ta’ala berfiman: (Maksudnya) “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Dengan itu, jelaslah bagi kita siapakah Ahli Sunnah Wal Jamaah dan siapakah pula yang bukan Ahli Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :

Semua orang mengaku telah menggapai Laila
Akan tetapi Laila tidak mengakuinya


Padahal Ahli Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus-soleh.

Wallahu Ta’ala A’lam

Sumber :http://al-muwahhidun.blogspot.com/